PAI KELAS 10 BAB 3 Menjalani Hidup Penuh Manfaat dengan Menghindari Berfoya-foya, Riya’, Sum’ah, Takabur, dan Hasud


BAB III 

Menjalani Hidup Penuh Manfaat dengan Menghindari Berfoya-foya, Riya’, Sum’ah, Takabur, dan Hasud

Bab ini membahas pentingnya hidup sederhana dan menjauhi sifat buruk yang dapat merusak hati serta hubungan sosial.


Peta Konsep Materi

Bab ini membahas lima sifat tercela (akhlak mazmumah) yang harus dihindari oleh setiap Muslim agar kehidupannya membawa berkah dan manfaat, yaitu:

  1. Berfoya-foya (Melampaui batas dalam membelanjakan harta)

  2. Riya’ (Memamerkan amal kebaikan agar dilihat orang lain)

  3. Sum’ah (Memperdengarkan amal kebaikan agar didengar orang lain)

  4. Takabur (Sombong / merasa lebih baik dari orang lain)

  5. Hasud (Iri hati / dengki atas nikmat orang lain)

1. Menghindari Sifat Berfoya-foya

A. Pengertian Berfoya-foya

Berfoya-foya (israf / tabdzir) adalah gaya hidup yang menghambur-hamburkan uang atau harta untuk hal-hal yang tidak penting, bersifat fana (sementara), dan melampaui batas kewajaran (hura-hura).

B. Dalil Al-Qur'an

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 27)

C. Dampak Negatif Berfoya-foya

  • Menjadi Teman Setan: Pemboros dikategorikan sebagai pengikut setan.

  • Krisis Finansial: Menghabiskan harta tanpa perencanaan berisiko memicu kebangkrutan di masa depan.

  • Timbulnya Sifat Serakah: Cenderung selalu merasa kurang dan memperturutkan hawa nafsu duniawi.

  • Lupa Sosial: Mengabaikan kepedulian terhadap fakir miskin atau orang yang membutuhkan di sekitar.

D. Cara Menghindari Berfoya-foya

  • Menerapkan skala prioritas antara kebutuhan (daruriyah) dan keinginan (tahsiniyah).

  • Membiasakan hidup hemat, sederhana, dan rajin menabung.

  • Memperbanyak bersedekah dan berbagi dengan sesama.

2. Menghindari Sifat Riya’

A. Pengertian Riya’

Riya’ secara bahasa berarti memperlihatkan. Secara istilah, riya’ adalah melakukan suatu ibadah atau amal kebaikan bukan karena Allah SWT, melainkan agar dilihat, dipuji, atau disanjung oleh manusia.

B. Pembagian Riya’

  1. Riya’ Fi’li (Perbuatan): Contohnya, seseorang yang sengaja memperlama rukuk atau sujudnya ketika melihat orang lain memperhatikan.

  2. Riya’ Qauli (Ucapan): Contohnya, sengaja memperindah bacaan Al-Qur'an atau berbicara dengan nada bijak agar dipuji berilmu.

C. Dampak Negatif Riya’

  • Amal Menjadi Sia-sia (Hapusnya Pahala): Amal ibadah yang dicampuri riya’ tidak diterima oleh Allah SWT.

  • Menimbulkan Ketergantungan Pujian: Pelaku riya’ selalu merasa gelisah jika tidak mendapatkan pengakuan dari orang lain.

  • Merusak Hubungan Sosial: Menumbuhkan sifat munafik dan tidak tulus dalam pertemanan.

D. Cara Menghindari Riya’

  • Meluruskan niat (ikhlas) semata-mata karena Allah SWT dalam setiap amal kebaikan.

  • Berusaha menyembunyikan amal kebaikan (sedekah atau ibadah sunnah) kecuali jika memang disyariatkan untuk ditampakkan agar menjadi teladan (syiar).

  • Menyadari bahwa penilaian manusia itu fana dan tidak memberikan manfaat hakiki di akhirat.

3. Menghindari Sifat Sum’ah

A. Pengertian Sum’ah

Sum’ah berasal dari kata sami'a (mendengar). Secara istilah, sum’ah adalah memberitahukan atau memperdengarkan amal kebaikan yang telah dilakukannya kepada orang lain agar mereka mendengar, memuji, dan mengaguminya.

B. Perbedaan Riya’ dan Sum’ah

  • Riya’ berkaitan dengan penglihatan (memamerkan amal secara visual/langsung).

  • Sum’ah berkaitan dengan pendengaran (menceritakan, mempublikasikan, atau membanggakan amal kebaikan agar orang lain mendengar).

C. Dampak Negatif Sum’ah

  • Menghilangkan esensi keikhlasan dalam beribadah.

  • Mendapat murka dari Allah SWT dan di akhirat kelak amal kebaikannya tidak mendatangkan pahala.

  • Menjadikan pelakunya sombong secara terselubung.

D. Cara Menghindari Sum’ah

  • Menjaga lisan agar tidak mudah mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah dilakukan.

  • Membiasakan diri merasa cukup dengan penilaian Allah SWT semata.

  • Mengingat bahwa membanggakan amal dapat menghapus pahala amal tersebut.

4. Menghindari Sifat Takabur

A. Pengertian Takabur

Takabur artinya sombong atau membanggakan diri. Sifat ini muncul karena seseorang merasa dirinya lebih baik, lebih kaya, lebih pintar, atau lebih mulia dari orang lain, sehingga meremehkan orang lain dan menolak kebenaran.

B. Dalil Al-Qur'an

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman [31]: 18)

C. Dampak Negatif Takabur

  • Dibenci oleh Allah dan Sesama Manusia: Orang sombong dijauhi dalam kehidupan sosial.

  • Tertutup Hatinya dari Kebenaran: Merasa dirinya paling benar sehingga sulit menerima nasihat orang lain.

  • Terhalang Masuk Surga: Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarrah.

D. Cara Menghindari Takabur

  • Menyadari asal-usul manusia dari tanah dan akan kembali ke tanah (tidak ada yang patut disombongkan).

  • Menyadari bahwa segala kelebihan (harta, ilmu, jabatan) adalah titipan Allah SWT semata.

  • Membiasakan sikap tawaduk (rendah hati) dalam pergaulan sehari-hari.

5. Menghindari Sifat Hasud

A. Pengertian Hasud

Hasud (dengki) adalah perasaan tidak senang atau benci melihat orang lain mendapatkan nikmat, kesenangan, atau keberuntungan, serta berkeinginan agar nikmat tersebut hilang dari orang tersebut.

B. Tingkatan Hasud

  1. Menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain.

  2. Tidak harus menginginkan nikmat itu hilang, tetapi merasa tidak rela jika orang lain mendapatkan nikmat yang melebihi dirinya.

C. Dampak Negatif Hasud

  • Memakan Kebaikan Sendiri: Rasulullah SAW mengumpamakan hasud seperti api yang memakan kayu bakar; hasud menghanguskan amal-amal kebaikan seseorang.

  • Menyiksa Diri Sendiri: Pelaku hasud hidup dalam kecemasan, kebencian, dan stres kronis melihat kebahagiaan orang lain.

  • Memutus Tali Silaturahmi: Memicu permusuhan, fitnah, dan perpecahan dalam masyarakat.

D. Cara Menghindari Hasud

  • Menerima dan ridha dengan qada dan qadar (ketentuan) pembagian rezeki dari Allah SWT.

  • Mengembangkan sikap ghibthah (iri yang positif), yaitu mengagumi nikmat orang lain dan termotivasi untuk mencapainya dengan cara yang halal tanpa ingin nikmat itu hilang dari orang lain.

  • Memperbanyak rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan pada diri sendiri.

Rangkuman Reflektif

Menjalani hidup penuh manfaat menuntut seorang Muslim untuk membersihkan hati dari penyakit-penyakit mental (qalbu). Dengan meninggalkan berfoya-foya, riya’, sum’ah, takabur, dan hasud, seseorang akan mencapai ketenangan batin, keberkahan rezeki, serta hubungan sosial yang harmonis dan diridhai Allah SWT.


Latihan!

  1. Jelaskan pengertian berfoya-foya dan mengapa Islam melarangnya!
  2. Sebutkan dua contoh nyata sikap riya’ dalam kehidupan sehari-hari!
  3. Mengapa sifat sombong (takabur) dapat merugikan diri sendiri? Jelaskan!
  4. Bagaimana cara menghindari sifat hasud? Berikan dua cara yang bisa dilakukan!
  5. Sebutkan dua dalil (ayat atau hadis) yang melarang sikap berfoya-foya dan riya’!

Komentar

  1. 1. Jelaskan pengertian berfoya-foya dan mengapa Islam melarangnya!
    Berfoya-foya (dalam bahasa Arab sering dikaitkan dengan istilah israf) berarti membelanjakan harta secara berlebihan dan tanpa perhitungan, untuk hal-hal yang tidak bermanfaat atau bahkan merugikan. Ini termasuk menghabiskan harta untuk kesenangan semata, kemewahan yang tidak perlu, dan pamer kekayaan.
    Islam melarang berfoya-foya karena beberapa alasan:
    Merupakan bentuk ketidaksyukuran: Berfoya-foya menunjukkan ketidaksyukuran atas nikmat Allah SWT yang telah diberikan. Harta yang dimiliki seharusnya digunakan dengan bijak dan bermanfaat, bukan untuk kesenangan sesaat yang sia-sia.
    Menimbulkan kerugian: Membelanjakan harta secara berlebihan dapat menyebabkan kerugian finansial, baik bagi individu maupun keluarga. Ini dapat menyebabkan kesulitan ekonomi dan bahkan kemiskinan.
    Menimbulkan kerusakan: Berfoya-foya seringkali diiringi dengan perilaku yang merusak, seperti mabuk-mabukan, berjudi, dan perbuatan maksiat lainnya.
    Tidak sesuai dengan ajaran Islam: Islam mengajarkan agar manusia hidup sederhana, hemat, dan menggunakan hartanya untuk kebaikan. Berfoya-foya bertentangan dengan prinsip-prinsip tersebut.
    2. Sebutkan dua contoh nyata sikap riya’ dalam kehidupan sehari-hari!
    Beramal untuk dilihat orang: Seseorang beramal, seperti bersedekah atau sholat, bukan karena ikhlas karena Allah SWT, tetapi untuk mendapatkan pujian dan sanjungan dari orang lain. Mereka sengaja melakukannya di tempat ramai atau mempublikasikannya di media sosial.
    Berpakaian mewah untuk pamer: Seseorang mengenakan pakaian dan perhiasan yang mahal-mahal bukan karena kebutuhan, tetapi untuk menunjukkan kekayaan dan kemewahannya kepada orang lain. Tujuannya adalah untuk mendapatkan rasa kagum dan iri dari orang lain.
    3. Mengapa sifat sombong (takabur) dapat merugikan diri sendiri? Jelaskan!
    Sifat sombong (takabur) dapat merugikan diri sendiri karena:
    Menutup pintu hidayah: Sombong membuat seseorang merasa dirinya paling benar dan paling hebat, sehingga sulit menerima kritik dan nasihat. Ini dapat menutup pintu hidayah dan mencegah pertumbuhan spiritual.
    Memutuskan silaturahmi: Sombong membuat seseorang sulit bergaul dan berinteraksi dengan orang lain, terutama yang dianggap lebih rendah. Ini dapat memutuskan silaturahmi dan menyebabkan kesendirian.
    Menjauhkan dari rahmat Allah: Allah SWT tidak menyukai orang yang sombong. Sombong dapat menjauhkan seseorang dari rahmat dan pertolongan Allah SWT.
    Menyebabkan kehancuran: Sombong dapat menyebabkan seseorang kehilangan teman, pekerjaan, dan bahkan keluarganya. Ini dapat menyebabkan kehancuran hidup di dunia dan akhirat.
    4. Bagaimana cara menghindari sifat hasud? Berikan dua cara yang bisa dilakukan!
    Hasud (iri hati) dapat dihindari dengan:
    Bersyukur atas nikmat Allah: Selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah SWT berikan, baik yang besar maupun yang kecil. Dengan bersyukur, hati akan merasa tenang dan tidak mudah iri kepada orang lain.
    Berfokus pada peningkatan diri: Alihkan fokus dari apa yang dimiliki orang lain kepada upaya untuk meningkatkan diri sendiri. Berusahalah untuk memperbaiki kekurangan dan mengembangkan potensi yang ada.
    5. Sebutkan dua dalil (ayat atau hadis) yang melarang sikap berfoya-foya dan riya’!
    Dalil yang melarang berfoya-foya (israf) dan riya' banyak terdapat dalam Al-Quran dan Hadis. Berikut dua contoh:
    Al-Quran (QS Al-Isra' 17:26): "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga mereka bagiannya (dari hartamu) menurut yang patut. Dan janganlah kamu berlebih-lebihan dan janganlah kamu kikir, karena kamu akan kembali dengan membawa kerugian." (Ayat ini secara umum mengajarkan tentang keadilan dalam berbelanja dan melarang pemborosan).
    Hadis Riwayat Bukhari Muslim: Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang yang suka bermegah-megah (riya')." (Hadis ini secara spesifik melarang sikap riya').
    Perlu diingat bahwa ini hanyalah sebagian kecil dari dalil yang membahas tentang larangan berfoya-foya dan riya'. Banyak ayat dan hadis lain yang menjelaskan hal ini secara lebih detail.

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. foya2 adalah gaya hidup yang berlebih lebihan dalam menghamburkan harta untuk hal yang tidak penting ....karena merupakan perilaku mendekatkan diri pada setan dan menimbulkan kesengsaraan dimasa depan
      2. contoh riya dalam kehidupan sehari-hari:
      a. pamer harta dan ibadah di media sosial
      b. merasa diri paling hebat dengan mengungkit kebaikan di depan orang banyak
      3. karena dibenci Allah dan dijauhi manusia
      4. menghindari sifat hasud dengan cara:
      a. memperbanyak rasa syukur kepada Allah
      b. rida dengan takdir Allah
      5. foya foya :Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 27)
      Riya’ Fi’li (Perbuatan): Contohnya, seseorang yang sengaja memperlama rukuk atau sujudnya ketika melihat orang lain memperhatikan.

      Hapus
  2. Berikut jawaban pertanyaan Anda:

    *Pengertian Berfoya-foya dan Larangan Islam*
    Berfoya-foya adalah perilaku yang berlebihan dan tidak perlu dalam menghabiskan harta atau waktu, sehingga dapat menyebabkan kerugian dan kesia-siaan. Islam melarang berfoya-foya karena dapat menyebabkan kesombongan, keborosan, dan tidak bersyukur atas nikmat Allah.

    *Contoh Sikap Riya' dalam Kehidupan Sehari-hari*
    1. Beribadah hanya untuk dilihat orang lain, bukan karena keimanan dan ketakwaan.
    2. Berbagi harta atau bantuan hanya untuk mendapatkan pujian dan pengakuan dari orang lain.

    *Dampak Sifat Sombong (Takabur)*
    Sifat sombong dapat merugikan diri sendiri karena dapat menyebabkan:

    - Kehilangan kesadaran akan kelemahan dan keterbatasan diri.
    - Menjauhkan diri dari Allah dan orang lain.
    - Menghambat perkembangan dan kemajuan diri.

    *Cara Menghindari Sifat Hasud*
    1. Menerima dan mengakui kelebihan orang lain.
    2. Fokus pada perkembangan dan kemajuan diri sendiri.

    *Dalil Larangan Berfoya-foya dan Riya'*
    1. QS. Al-A'raf (7): 31, "Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
    2. HR. Muslim, "Barang siapa yang beramal untuk dilihat orang lain, maka Allah akan memperlihatkan amalnya itu kepada orang lain, dan barang siapa yang beramal karena Allah, maka Allah akan membalasnya dengan kebaikan yang banyak."

    BalasHapus
  3. *1. Jelaskan pengertian berfoya-foya dan mengapa Islam melarangnya!*

    * *Pengertian :* Berfoya-foya adalah perbuatan hidup berlebihan dengan menghambur-hamburkan harta, waktu, dan tenaga hanya untuk kesenangan duniawi semata tanpa tujuan bermanfaat.
    * *Larangan dalam Islam :* Islam melarang berfoya-foya karena termasuk sikap *israf* (berlebihan) dan *tabdzir* (pemborosan). Allah melarang hamba-Nya boros, karena harta seharusnya dipergunakan untuk kebaikan, menolong orang lain, dan bekal akhirat. Pemborosan juga menjauhkan seseorang dari rasa syukur.


    *2. Sebutkan dua contoh nyata sikap riya’ dalam kehidupan sehari-hari!*

    1. Seseorang *bersedekah dengan jumlah besar* tetapi mengumumkannya di depan umum agar dipuji sebagai orang dermawan.
    2. Seorang pelajar *rajin salat di masjid* hanya ketika ada guru atau orang yang dikenalnya agar dianggap alim dan taat beragama.


    *3. Mengapa sifat sombong (takabur) dapat merugikan diri sendiri? Jelaskan!*

    * Sifat sombong membuat seseorang *merasa lebih baik dari orang lain*, sehingga sulit menerima nasihat, menolak kebenaran, dan meremehkan orang lain
    * Akibatnya, orang sombong dijauhi teman, kehilangan rasa rendah hati, serta membuat hatinya keras. Dalam pandangan Allah, sifat takabur termasuk *dosa besar* yang dapat menutup jalan menuju surga.


    *4. Bagaimana cara menghindari sifat hasud? Berikan dua cara yang bisa dilakukan!*

    1. *Melatih hati untuk bersyukur* atas nikmat yang Allah berikan, karena setiap orang sudah memiliki rezekinya masing-masing.
    2. *Mendoakan kebaikan* bagi orang lain yang mendapatkan nikmat, agar hati bersih dari iri dengki.


    *5. Sebutkan dua dalil (ayat atau hadis) yang melarang sikap berfoya-foya dan riya’!*

    1. *Larangan berfoya-foya (boros):*

    - “Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan.”
    > (QS. Al-Isra’ \[17]: 27)

    2. *Larangan riya’:*
    Rasulullah SAW bersabda:

    - “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’.”
    > (HR. Ahmad)

    BalasHapus
  4. 1. Berfoya-foya adalah menggunakan harta secara berlebihan hanya untuk kesenangan. Islam melarangnya karena dapat menyebabkan pemborosan dan membuat seseorang lupa bersyukur.

    2. Contoh sikap riya:
    - Bersedekah lalu memamerkannya agar dipuji.
    - Rajin beribadah hanya ketika ada orang yang melihat.

    3. Sifat sombong dapat merugikan diri sendiri karena membuat seseorang merasa lebih baik dari orang lain, sulit menerima nasihat, dan bisa dijauhi orang lain.

    4. Cara menghindari sifat hasud:
    - Bersyukur atas nikmat yang dimiliki.
    - Mendoakan kebaikan bagi orang yang mendapat nikmat.

    5. Dua dalil:
    - QS. Al-Isra ayat 26-27 melarang pemborosan dan menyebut orang yang boros sebagai saudara setan.
    - QS. Al-Ma'un ayat 4-6 mencela orang yang beribadah tetapi berbuat riya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PAI Kelas 10 Bab 1: Meraih Kesuksesan dengan Kompetisi dalam Kebaikan dan Etos Kerja:

PAI Kelas 11 Bab 1

LAGU PEMBELAJARAN BAHASA ARAB